Sekilas Tentang Sejarah Drama

Sekilas Tentang Sejarah Drama--
Dibanding genre karya sastra lainnya (novel, cerpen, dan puisi), drama memiliki keunikan tersendiri. Selain bisa dinikmati sebagai bacaan drama pun bisa dinikmati sebagai sebuah pertunjukan. Hal inilah yang membuat drama disebut sebagai karya dua dimensi, yaitu drama sebagai genre sastra (teks) dan drama sebagai pertunjukan seni peran. Drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan action dan perilaku. Kata drama berasal dari draomai, yaitu bergerak atau berbuat.

Sejak awal kemunculannya, drama terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Drama terus mengalami proses pencarian identitasnya. Sejak kemunculan Bebasari karya Roestam Effendi drama terus mengalami perkembangan walaupun tidak sepesat prosa dan puisi. Drama yang ditulis pada 1926 ini adalah drama pertama yang menggunakan bahasa Indonesia.

Sejak dulu drama memang sering kali dijadikan media kritik oleh pengarangnya. Keinginan untuk melontarkan pandangan yang diberi muatan kritik tersebut muncul saat seorang pengarang mengalami kegelisahan dan ketidaksetujuan terhadap suatu keadaan. Adapun beberapa contoh drama yang berkaitan dengan masalah sosial antara lain drama Bebasari (1926) karya Rustam Efendi, drama Kejahatan Membalas Dendam karya Idrus (1945), drama Pakaian dan Kepalsuan (1954) karya Achdiat Kartamihardja, drama Domba-domba Revolusi karya B.Sularto (1966), Wonoboyo karya Slamet Mulyana, Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Penggali Kapur (1956), dan Penggali Intan (1957) karya Kirdjomulyo. Iblis karya Mohammad Diponegoro. Jam Dua Belas Malam dan Bayang Menggoda karya Sutarno Priyomarsono. Si Djuallah karya Pong Waluyo, dan drama-drama karya N. Riantiarno, antara lain Opera Kecoa dan Maaf. Maaf. Maaf.
Suka artikel ini?