Contoh Resensi Buku | "Munir: Sebuah Kitab Melawan Lupa"


Contoh Resensi Buku | "Munir: Sebuah Kitab Melawan Lupa"---
Berikut ini disajikan sebuah resensi:

Bergerilya Melawan Lupa Bersama Munir
Judul Buku : Munir: Sebuah Kitab Melawan Lupa
Editor : Jaleswari Pramodhawardani dan Andi Windjajanto
Penerbit : Mizan, Bandung, Cetakan Pertama, Desember 2004
Tebal : iix + 545 halaman

Bangsa Indonesia sering dituduh sebagai bangsa pelupa. Lupa atas dosa-dosa masa lalu, kekerasan-kekerasan masa lalu, dan berbagai penyimpangan masa lalu. Melalui buku ini, pembaca diajak berjuang melawan lupa, karena seperti yang dikatakan oleh Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Salah satu anak bangsa yang tidak pernah jenuh mengingatkan kita semua agar tidak pelupa adalah (almarhum) Munir. Dengan sikap dan perjuangannya, Munir mencoba mempertahankan ingatan kita dan secara bersamaan juga melakukan perlawanan terhadap lupa. Orang asal kota Malang yang termasyhur itu bukanlah seorang pejabat tinggi atau ketua parpol dari negara ini. Ia hanyalah seorang berperawakan kecil lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dengan latar belakang sarjana hukum, ia bergabung dengan lembaga bantuan hukum (LBH). Berawal dari LBH inilah, si kecil Munir yang diibaratkan oleh Haidar Bagir sebagai “David” melawan “Goliath” Soeharto dengan kuasa gelap militer yang menyesakkan serta menggetarkan sukma siapa saja (hlm. 79). Sejak saat itu, Munir terus melaksanakan rasa hormatnya terhadap hak asasi manusia (HAM) dalam aksi yang jelas dan tegas.

Terlepas dari segala sumbangsih Munir terhadap penegakan HAM di Bumi Indonesia, faktanya Munir sekarang telah pergi meninggalkan kita semua. Sebagian kawan mempersoalkan, Munir yang usianya masih terlalu muda, belum genap sewindu, masih banyak yang bisa dilakukan olehnya. Ada pihak lain yang menggugat Munir yang “diambil” lebih dahulu. Singkatnya, jika hati diikuti, rasanya sebagian dari kita tidak ikhlas atas kepergian Munir. Namun, inilah rahasia Tuhan, Allah memang punya hak prerogatif untuk menentukan usia seseorang (hlm. 34).

Banyaknya orang kehilangan atas kepergian Munir, bukan hanya sahabat dekatnya, tetapi seluruh warga Indonesia yang mendamba keadilan. Tidak sekadar warga Indonesia, sekaligus para intelektual dunia yang concern terhadap pembelaan HAM. Rasa kehilangan serta kesedihan dari orang-orang yang pernah mengenal Munir secara langsung itulah yang dirangkum dalam buku ini. Seperti yang ditulis Yukio Mishima, “Apresiasi yang kita berikan pada kehidupan seharusnya berlaku sama pada kematian, karena kematian selalu membawa makna dan bukan hal yang sia-sia”.

Berbekal logika yang dimainkan oleh Yukio Mishima, Jaleswari Pramodhawardani dan Andi Windjajanto, editor buku ini, mencoba mengais tulisan yang mengungkap Munir dari berbagai sumber, mulai dari majalah, koran, website, makalah seminar, hingga meminta langsung kepada kawan-kawan Munir. Jerih payah kedua editor ternyata tidak sia-sia. Tepat pada seratus hari memperingati kematian Munir, sebuah buku yang mungkin bisa menjadi saksi bagi sepak terjang dan perjuangan Cak Munir berhasil diterbitkan.

Sebagaimana obituarium, menulis bukan tentang kematian seseorang sering membuat kita enggan menuliskan keburukan sebagai lawan kebaikan, walau dengan alasan keutuhan atau objektivitas. Dengan kata lain, bisa dikatakan, para penulis dalam menghadirkan sosok Munir melalui buku ini sering tergoda untuk membalut, memoles, serta mengemas kenangan sehingga tampak lebih memukau dengan berbagai cara dan teknik pencitraan. Namun, karena ditulis oleh mereka dari berbagai macam disiplin keilmuan, pembaca akan diajak bertamasya spiritual karena memuat banyak pengalaman batin dan hidup manusia. Lebih menarik lagi, tulisan dalam buku ini dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama, mengungkapkan perjum-paan dan pengalaman kawan mau-pun lawan ideologi almarhum yang dituangkan dalam tulisan bergaya feature. Bagian k-dua berisi sumbangan tulisan yang bersifat filosofis maupun teoritis.

Munir bukanlah pribadi yang sempurna meski di mana-mana di-sanjung sebagai pejuang kemanusiaan. Namun, ada juga kalangan yang mengatakan, Munir tidak mempunyai cinta pada negara, semangat nasionalismenya telah hilang. Menanggapi hujatan tersebut, Munir balik mengatakan, yang tidak memiliki semangat nasionalisme adalah para pejabat yang korup dan gemar menindas rakyat, wartawan yang mau menerima suap untuk menutupi kebusukan negara, serta petinggi militer yang menyunat jatah makan prajuritnya (hlm. 3). Pendeknya, Cak Munir menolak bila disebut tak memiliki semangat nasionalisme.

Membaca nasionalisme versi Cak Munir, kenangan kita terbawa pada cerita Ramayana, khususnya tentang Kumbokarno vs Wibisono Syahdan, ksatria Kumbokarno berperang melawan paduka Rama, Kumbokarno tetap loyal pada negara meski Prabu Dasamuka melakukan tindakan tercela (right or wrong is my country).

Berbeda dengan Wibisono yang berani mengatakan kebenaran kepada Prabu Dasamuka dengan segala akibatnya. Bagi Wibisono, nasionalisme haruslah diabadikan pada kemanusian bukan kepada negara semata. Dari cerita ini, setidaknya bisa ditarik kesimpulan bahwa Cak Munir berprinsip ala Wibisono.

Biarpun tak luput dari kekurangan, seperti sedikit kesalahan cetak yang bisa mengganggu kenikmatan membaca, buku ini bisa dijadikan cermin bagi kita semua. Itulah kaca yang menunjukkan betapa bopeng wajah kita. Semoga pikiran, sikap, serta kesederhanaan Munir yang dituangkan dalam buku ini mampu mengubah kita menjadi lebih beradab. (Achyani Arifin)

Sumber: Kompas
Foto: Google
Suka artikel ini?