Teori | Pergeseran Makna Peyorasi | Awarding di Kalangan Blogger

  • Teori | Pergeseran Makna Peyorasi | Awarding di Kalangan Blogger---- Bahasa itu unik. Selama peradaan manusia ada dan zaman terus berkembang, maka bahasa pun akan mengalami perubahan. Perubahan yang dimaksud itu dapat berupa perubahan makna. Perubahan makna masih merupakan hal yang tak perlu dirisaukan. Yang patut dirisaukan itu adalah musnahnya beberapa kosakata akibat telah punahnya sesuatu atau benda yang menjadi acuannya. Beruntung, kata dinosaurus tidak hilang dalam perbendaharaan bahasa karena walaupun dino sudah punah, ia masih 'diabadikan' dalam film.

    Kembali ke pergeseran makna. Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia, kita mengenal beberapa perubahan makna. Ada Sinestesia, Asosiasi, Meluas (Generalisasi), Menyempit (Spesialisasi), Ameliorasi, dan Peyorasi. Kali ini kita bahas perubahan makna Peyorasi dulu.

    Peyorasi adalah perubahan makna menjadi lebih jelek. Maksudnya kata tersebut bergeser maknanya menjadi lebih jelek dibanding makna kata di waktu yang lalu.

    Contoh: pembantu.
    Di masa yang lalu, jika kita mendengar kata pembantu, maka kita tahu yang dimaksud adalah orang yang membantu. Zaman dulu, orang akan sangat bangga memperkenalkan dirinya sebagai pembantu presiden misalnya. Zaman sekarang? Yang namanya pembantu ya berarti pesuruh rumah tangga, atau lebih kasarnya lagi: babu. Mohon maaf, ini bukan dalam konteks membicarakan pahlawan devisa (lebih mulia dari sebutan TKW). Itu soal lain, tidak sama dengan pembahasan pembantu dalam posting ini. It's ok. Zaman selalu berubah, suatu kata bisa berubah menjadi jelek, bisa berubah menjadi baik.

    Mau bukti? Ini: kata perempuan dan wanita.
    Zaman dulu, kata perempuan lebih 'anggun' terdengar. Seiring perkembangan zaman, kata perempuan kalah pamor dengan kata 'wanita'. Kata wanita lebih modern dan bernilai emansipasi dibanding kata 'perempuan' yang 'ndeso'. Namun, kemuakan atas modernisasi dan materialisme walhasil menempatkan kata 'perempuan' kembali pada pamornya. Perempuan tentu terasa lebih virgin dan asli, sesuatu yang seperti menjadi obsesi (sehingga sampai-sampai Dewi Perssik rela operasi selaput dara?). Ya, manusia memang tak pernah puas-puasnya.
    Contoh lain adalah kata 'cinta'. Maknanya begitu cepat bergeser menjadi jelek, menjadi baik, dan menjadi jelek lagi. Hanya di Cinta Deras milik sobat Raihan Mar'ie Ramadhan, menurut saya, kata 'cinta' berdiri di singgasananya yang tertinggi.

    Seperti halnya pokok bahasan yang menginspirasi saya menulis posting ini, Awarding di kalangan blogger. Dalam tulisannya, Iskaruji dot com mengatakan "Award atau jika boleh diartikan penghargaan, sekecil apapun itu merupakan bentuk apresiasi yang bernilai yang sudah sepatutnya di terima dengan baik...." Iskaruji dot com juga menambahkan tak akan membagi award tersebut walaupun si pemberi meminta untuk dibagikan lagi kepada 10 (sepuluh) blogger pilihan lainnya. Karena ".... award itu seharusnya sangat bernilai bagi penerimanya. Bukan sebaliknya melecehkan sebuah award yang diterimanya. Bentuk pelecehan yang dimaksud adalah memberikan award yang diterimanya ke orang lain, atau memberi agar diberikan ke orang lain lagi."

    Award tersebut memang sudah mengalami peyorasi. Dan setiap kita (tidak hanya saya) mendengar Blog Anu mendapat award dari Blog Anu, maka anggapan miring atas award tersebut lantas bermunculan. Kasihan award...(Maaf jika mungkin kalimat ini kurang berkenan)
    Andai, award berdiri sebagai dirinya, sebagai makna asalnya, maka Blog Pelajaran B.Indonesia di Jari Kamu ini tak hanya mendapat award dari Iskaruji dot com (dan satu blogger lain: One Lovely Blog) saja. Tapi lantaran trafiknya baru seribuan dibanding Iskaruji dot com yang belasan ribu, siapa sih yang mau? (Ngarep)

    Demikian, ini sekaligus tanggapan untuk Iskaruji dot com di komentarnya pada posting saya: Teori | Mengenal Polisemi dan Contoh-contohnya terkait posting-nya yang berjudul: PRO AWARD TAPI ANTI BERANTAI.

    23 Januari 2012