Cerpen Remaja Saya dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan : MIMPI BASAH

Cerpen ini merupakan contoh cerpen berdasarkan pengalaman pribadi (pengalaman mimpi basah semasa jadi anak kost) namun diberi tambahan imajinasi. Cerpen yang saya tulis semasa SMA dulu ini, saya ketik apa adanya agar jiwa remajanya tetap terasa sesuai dengan kalian. Saya posting untuk memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini. Silakan disimak.....
       
        Kost kami heboh! Bukan karena si Imus merengek-rengek minta kawin, tapi kompeni Belanda menyerang kembali. Yah, setelah lebih dari setengah abad kompeni itu hengkang dari negara Pancasila ini, kini mereka datang lagi. Bukan menjajah Indonesia, tetapi berniat menduduki dan menguasai kost-kost yang ada di kompleks Pasar Baru. Entah apa alasan dan sebab-musababnya. Kami, para anak kost tentu nggak mau tinggal diam. Sorry kalau mau nguasain kost gue. Sampai titik air kencing yang penghabisan sekalipun, bakal gue pertahanin.
        
        Anehnya, penduduk sekitar yang non-kost kok kayaknya cuek banget sama kami-kami. Yang punya kost juga. Kan kalau ancaman pada satu bagian kecil wilayah, berarti juga ancaman bagi seluruh Indonesia! Ini dalam pelajaran PMP, lho (sekarang: PKn). Apakah mereka disogok sama keju, roti, atau oleh-oleh dari luar negeri lainnya, entahlah. Yang jelas, sekarang gue lihat melalui lubang kunci rumah, tuh para kompeni lagi menuju kost gue setelah barusan nguasain kostnya Andi Azis dan Didik. Gue berpandangan sama Imus dan Harun yang juga ngintip lewat jendela.
        "Gimana akal kita?” tanya Harun dengan suara gemetar. Tangannya memegangi selangkangannya. Gue lihat celana dan lantai udah basah oleh air ‘PDAM’ yang ia keluarkan. Saking takutnya, tuh anak sampai terkencing-kencing. Kalau Imus? Wah, tuh anak tabah juga. Ia malah ngambil senapan anginnya yang ia simpan di bawah dipannya. Setelah dipompa, ia bidikkan ke arah para kompeni ewat dinding kost yang bolong. Dor!
        “Kompeninya nggak mempan ditembak!” ujarnya.
        “Bukannya nggak mempan, tapi nggak kena!” celutuk Harun. Masih sempat ngeledek juga tuh anak.
        “Benar! Sumpah! Gue kan tiap hari latihan!” Imus membela diri.
        “Udaaah. Cepat bidik lagi. Keburu kompeninya datang,” desak gue, rada-rada cemas.
        Setelah dipompa lima kali, dibidik lagi. Tetap kompeninya nggak apa-apa.
        Kali ini dipompa lagi sampai sepuluh kali. Mompanya bertiga lagi. Dibidik...... Dor! Tapi tetap aja kompeni yang udah sampai di halaman kost itu nggak apa-apa.
        “Waduh!” Imus menepuk dahinya sendiri. “Pelurunya belum diisi!” ujarnya.
        “Huuu!” Berbarengan gue dan Harun ngeledek.
        Brak! Tiba-tiba daun pintu didobrak. Gue hampir aja tertimpa sama daun pintu yang ambruk itu.

Bersambung ke Bagian ke-2.......


(Foto ilustrasi:Google)




10 November 2011
  •