Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30)

Pujangga Baru, pada awalnya merupakan nama majalah bahasa dan sastra yang mulai diterbitkan pada bulan Juli 1933. Majalah ini menjadi wadah para sastrawan untuk menyalurkan karya-karyanya. Para sastrawan tersebut kemuadian menamakan dirinya kelompok Pujangga Baru. Berbeda dg Angkatan Balai Pustaka yg didominasi oleh sastrawan dari Sumatera, para sastrawan Angkatan Pujangga Baru tidak hanya dari Sumatera tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuan Pujangga Baru lebih jelas, yaitu menuju semangat baru untuk membentuk persatuan kebudayaan menuju Indonesia merdeka.

Berikut beberapa sastrawan yang termasuk dalam angkatan ini dan beberapa karyanya:
  1. Sutan Takdir Alisjahbana
  2. Dian Tak Kunjung Padam (1932), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1941)
  3. Armijn Pane
  4. Habis Gelap Terbitlah Terang (1938-terjemahan surat-surat RA Kartini), Belenggu (1940)
  5. Amir Hamzah
  6. Nyanyi Sunyi (1937-kumpulan sajak), Bagawadgita (terjemahan bagian dari Mahabarata)
  7. Hamka
  8. Di bawah Lindungan Ka'bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van der Wijk (1939), Merantau ke Deli (1939), Menunggu Beduk Berbunyi (1950)
  9. Rustam Effendi
  10. Air Mata Seni (1947-cerpen)
  11. Muh. Yamin
  12. Tanah Air (1922-kumpulan Puisi), Julius Caesar (terjemahan Shakespeare)
  13. J.E. Tatengkeng
  14. Rindu Dendam (1934-puisi)
  15. Sanusi Pane
  16. Pancaran Cinta (1926-kumpulan Prosa Lirik), Puspa Mega (1927-kumpulan puisi), Madah Kelana (1931-kumpulan puisi)