SOAL | Menentukan Amanat dalam Kutipan Novel Asli Indonesia

Halaman Depan
Indikator Soal : Disajikan sebuah kutipan novel, siswa dapat menentukan amanatnya.
Sudah tahu kan apa itu amanat? Amanat adalah merupakan salah satu unsur intrinsik yang merupakan pesan pengarang kepada pembaca. Jangan salah, definisi apa itu amanat tidak ada dalam soal. Pahami betul indikator soal, dan model soalnya adalah sebagai berikut:

SOAL 1:
Yulia meloncat turun dari dalam angkot. O ... o ...! Tinggal delapan menit lagi untuk bisa tiba dengan selamat di kelas. Tak ada waktu untuk berlambat-lambat. Yulia bergegas menyeberang jalan dan berlari terbirit-birit menuju pintu gerbang sekolah. Sebenarnya, kalaupun terlambat, Yulia masih bisa masuk. Paling-paling hanya mendapat tugas tambahan. Tetapi bagi Yulia, terbayang-bayang wajah ayah ibunya hingga membuatnya enggan bermalas-malas. Bagaimana mungkin ia tega bersantai-santai, sementara kedua orang tuanya sibuk membanting tulang?
Amanat dalam kutipan cerita tersebut adalah selalu . . . .
a. berhati-hati bila menyeberang jalan.
b. mempertimbangkan ntung ruginya.
c. berjalan cepat dan tidak boleh bersantai-santai.
d. ingat jerih-payah dan pengorbanan orangtua.

Soal 2:
“Kamu kenapa, Du?” tanya nenek dengan sedih. “Maafkan Badu, Nek, tadi Badu makan mangga yang kecil-kecil dan akhirnya Badu sakit perut,” kata Badu sambil terisak. “Sudahlah, Du, lain kali tunggulah sampai mangga itu ranum, baru Badu boleh memetiknya.”
Amanat penggalan cerpen di atas adalah . . . .
a. jangan melawan kepada orangtua
b. kita harus menuruti nasihat orangtua
c. janganlah makan mangga yang masih kecil
d. janganlah memetik mangga sembarangan

Soal 3:
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Yulia meloncat turun dari dalam angkot. O... O...! Tinggal delapan menit lagi untuk tiba dengan selamat di kelas. Tak ada waktu untuk berlambat-lambat. Yulia bergegas menyeberang jalan dan berlari terbirit-birit menuju pintu gerbang sekolahnya. Sebenarnya, kalaupun terlambat, Yulia masih bisa masuk. Paling-paling hanya mendapat tugas tambahan. Tetapi bagi Yulia itu sudah merupakan aib. Di mata Yulia terbayang-bayang wajah ayah ibunya hingga membuatnya enggan bermalas-malasan. Bagaimana mungkin ia tega bersantai-santai sementara kedua orangtuanya sibuk membanting tulang?
Amanat dalam kutipan cerpen tersebut adalah . . . .
a. berhati-hatilah bila menyeberang jalan raya
b. berjalanlah dengan cepat dan jangan bersantai-santai
c. pertimbangkan untung dan ruginya
d. ingatlah jerih payah dan pengorbanan orangtua

Soal 4:
Kalau kupikir-pikir bapak memang sedikit berbeda dengan para tetangga yang umumnya petani. Bapak hobi membaca, mungkin bapak adalah petani dengan jumlah buku terbanya di desa kami. Beberapa buku tersebut berbahasa asing. Tapi anehnya rasa penasaranku tak kunjung sirna. kenapa bapak itu tidak menjadi pegawai? Kali ini bapak tertawa, ” Sekolah itu bukan mendidik siswa menjadi pegawai, kalau semua menjadi pegawai lantas siapa yang harus menjadi petani? Justru karena bapak seorang petani dan ibu di rumah, kami mudah membimbingmu.”
Pesan yang dapat diambil dari cerita tersebut adalah..................
a.kita harus bersyukur memiliki orang tua petani
b.pendidikan merupakan gerbang menuju sukses
c.hargailah jasa petani di samping pegawai
d.menjadi petani bukan halangan meraih sukses

Soal 5:
Gulungan ombak yang datang dari tengah lautan, setelah sampai di tepi pantai bergulung kembali di tengah lautan. Takjubnya aku tak dapat dielakkan karena permainan ombak itu merupakan suatu permainan masa. Bukankah begitu perjalanan zaman tersebut?
Pesan penggalan novel tersebut adalah…
a. Gulungan ombak datang dari tengah lautan.
b. Kehidupan itu setiap saat harus berubah sesuai zamannya.
c. Ombak bergulung-gulung ke tengah lautan dielakkan.
d. Takjubnya aku tidak dapat dielakkan oleh ombak.

Soal 6:
Perkataan itu terdengar oleh sekalian isi kantor. Semua pesuruh berdiri dari bangku kedudukannya, memandang Kosim tenang-tenang. Warna muka orang muda itumerah padam, matanya bersinar-sinar. Bukan main marahnya karena ia dihinakan. Ia pun berkata dengan gagap, “Saya bu…bukan bujang, juragan.”
“Aku kepalamu, tuanmu, tahu? Kepadaku engkau minta izin jika hendak ke mana-mana dari kantor ini.”
“Keras kepala, bin… engkau! Ini manteri kabupaten, Manteri Surya, mengerti? Awas…”
Kosim gemetar, kedua bibirnya bertaut dan matanya terbelalak berapi-api. Ia melangkah menuju meja manteri dan membulatkan tinjunya.
Seketika itu juga tangannya dipegang oleh Suminta cepat-cepat lalu ia ditariknya keluar.
“Sudah Juragan Kosim,” katanya perlahan-lahan. Pergilah, ah…mana gelas itu Juragan Manteri? Saya cuci, saya beli kopi sekali?”
Surya terdiam diri, dagunya gemelutuk karena berang. Sejurus antaranya ia pun memegang pena seakan-akan hendak bekerja. Akan tetapi, tak dapat, hatinya masih berang.
Amanat kutipan novel tersebut adalah…
a. Sewajarnya bawahan menentang perintah atasannya.
b. Tidak seharusnya atasan menyuruh bawahan.
c. Jadilah pemuda yang berani menentang orang tua.
d. Jadilah orang yang bijaksana.

Selamat belajar......

Suka artikel ini?