SOAL | Membaca / Memahami Laporan


  • Soal 1
    Bacalah laporan berikut dengan cermat!
    Disebut Ketep Pass karena terletak di sebuah bukit di Desa Ketep, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi Ketep Pass terletak di antara Gunung Merapi dan Merbabu, tepatnya di sebelah barat daya lereng Gunung Merbabu pada ketinggian 1.200 m dpl.
    Lokasinya yang berada di antara kedua gunung itu menjadi makin strategis karena dari tempat itu kita dapat menikmati pemandangan alam yang indah. Orang bisa menyaksikan puncak gunung merapi dan merbabu, kedahsyatan aliran lahar yang meleleh dari puncak merapi. Udara yang sejuk menambah nikmat pandangan mata saat menyaksikan hamparan hutan yang menghijau di sekitarnya.
    Tanggapan yang tepat untuk laporan tersebut adalah…
    a. Ketep Pass sangat menarik untuk dikunjungi karena udara sejuk dan pemandangan bagus.
    b. Ketep Pass sebagai salah satu tujuan wisata sebaiknya tetap dijaga kelestarian lingkungannya.
    c. Kita dapat menyaksikan puncak Gunung Merapi dan Merbabu.
    d. Tempat ini memiliki keunikan sehingga saya merekomendasikan sebagai tempat tujuan wisata.

    Soal 2
    Isi laporan yang menggambarkan perjalanan seseorang adalah…
    a. Festival kali ini disebut-sebut sebagai yang paling besar dan meriah dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya. Acara pembukaannya bahkan sempat menyentak warga kota budaya itu dengan parade kirab yang diikuti sekitar 4.500 prajurit dari 29 keraton. (Dikutip dari: Pesta Budaya Para Raja”, Intisari, November 2004).
    b. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya telah mengenal tornado melalui cerita-cerita ayah. Sebagai pengarang, ia pandai menanamkan kesan yang mendalam kepada setiap pendengarnya. Lebih-lebih ceritanya selalu dihias dengan gambar-gambar dari majalah berbahasa Belanda, Panorama. (Dikutip dari: “Ulah Tornado Si Belalai Gajah”, Intisari, April 2005).
    c. Lagi-lagi suasana tenang dan damai mewarnai atmosfer pantai. Kalaupun ada “gangguan”, cuma dari beberapa pedagang asongan. Seperti penjual kalung dan gelang kayu berukir atau pedagang kelapa muda. Yang terakhir ini sayang kalau kami tolak. Soalnya, inilah satu-satunya minuman pemuas dahaga sekaligus lapar, mengingat tak ada satupun warung di sana. Di atas sebuah pondok terbuka di pinggir pantai, si penjual mengupas kelapa muda langsung di depan kami lalu membuatkan sendok dari kulitnya. (dikutip dari: “Wow…Lombok memesona juga!”, Intisari, Mei 2006).
    d. Itulah gambaran yang terjadi manakala sekitar 60 wanita bernama Endang berkumpul untuk pertama kalinya. Pertemuan pertama yang terjadi berkat inisiatif sang tuan rumah, Endang Syahbenol, itu akhirnya berlanjut sampai akhirnya terbentuk Jogja Endang Club (JEC). Perkumpulan itu kini memiliki anggota tak kurang dari 200 orang bernama Endang. (Dikutip dari:” Kalau Ratusan Endang Berkumpul”, Intisari, Maret 2006).


    05 Desember 2010