Contoh Resensi Novel


Kamu sudah tahu apa itu resensi bukan? Jika belum tahu, klik di SINI. Terus, ini adalah contoh resensinya:

Resensi Film "Mereka Bilang Saya Monyet!" (2007) - Terjebak trauma masa silam yang kelam.
Genre : Drama.
Sutradara : Djenar Maesa Ayu.
Skenario : Djenar Maesa Ayu & Indra Herlambang.
Produksi : Intimasi Productions.
Pemain : Titi Sjuman, Henidar Amroe, Ray Sahetappy, Bucek Depp, Agust Melasz, Mario Lawalata.
Durasi : 90 min.

Film ini merupakan adaptasi dari dua cerpen dalam kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet! (2007) karya Djenar Maesa Ayu serta merupakan debut pertama penyutradaraan dari penulis tersebut, setelah sebelumnya sempat bermain film dalam Anak-Anak Borobudur (2007).

Film yang dibuat dalam format digital menyebabkan film ini hanya dapat dinikmati di jaringan bioskop BlitzMegaplex yang menyediakan fasilitas dukungan format digital tersebut. Djenar Maesa Ayu adalah seorang penulis yang karyanya banyak menimbulkan pro dan kontra.

Mengupas persoalan perempuan, kehidupan dan seksualitas dalam pendekatan yang berani dan terbuka. Karya putri dari sutradara sekaligus penulis terkenal Sjumandjaja ini antara lain : Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002), Jangan Main-Main dengan Kelaminmu (2004), Nayla (2005) dan Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek (2006).

Film yang bertutur tentang masa lalu yang kelam telah menjadi momok yang mendikte arah masa depan seseorang. Hal ini terlihat amat nyata pada diri Adjeng [Titi Sjuman], perempuan muda yang menjadi penulis. Ia masih terkurung dalam bayang-bayang masa lalunya. Segala cara ditempuh Adjeng untuk memuluskan karirnya.

Berbagai pelecehan yang kerap diterima Adjeng semasa kecil dan perlakuan orang tua yang kurang layak membentuk karakter Adjeng dewasa menjadi mendua. Di satu sisi, ia bersikap sangat agresif tatkala bersama teman-teman maupun kekasihnya. Namun, di sisi lain ia terlihat begitu pasif bila berhadapan dengan ibunya [Henidar Amroe].

Keinginan untuk melepaskan diri dari berbagai tekanan inilah yang mendorong Adjeng untuk mengekspresikannya kedalam sebuah karya tulisan lewat bimbingan seorang penulis senior yang miskin dan menjadi kekasih gelapnya, Asmoro [Ray Sahetappy]. Namun, rasa keberatan dari ibunya memberikan sebuah dilema kepada Adjeng.

Mampukah Adjeng bangkit dan keluar dari bawah tekanan ibunya untuk berdamai dengan masa lalunya ? Kemampuan Djenar Maesa Ayu dan Indra Herlambang dalam bercerita lewat skenarionya patut mendapat acungan jempol. Sebagai layaknya film yang mengangkat genre drama sebagai gambaran kehidupan yang memang kerap dialami sebagian orang.

Namun, amat disayangkan, dalam film ini Djenar sebagai sutradara kurang memberikan sensitifitas yang dapat membuat film ini menjadi lebih hidup. Alur cerita pun terasa monoton dan ditambah sinematografi film yang terkesan sangat sederhana.

Sumber: www.kabarindonesia.com
Suka artikel ini?